-
MINnglawu - Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan bumi bisa dikelilingi dalam hitungan menit. Gambaran video dari kompilasi sejumlah foto time-lapse yang diambil dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) ini pun memperlihatkan keindahan bumi dalam satu menit.
Video time-lapse ini dibuat oleh seorang pengajar sains James Drake. Seperti dikutip dari laman Daily Mail, Drake menggunakan 600 potret permukaan bumi yang diambil dari ISS, dari website "The Gateway to Astronaut Photography of Earth".
Video satu menit karya Drake itu kemudian di-post secara online dan menjadi sensasi di internet, dengan lebih dari 300.000 pengunjung di YouTube.
Sejumlah kota dan lanskap telah dipotret secara kronologis, yaitu Pulau Vancouver, Victoria, Seattle, Portland, San Fransisco, Los Angeles, Phoenix, beberapa bagian di Texas, Meksiko City, Meksiko, Teluk Meksiko, dan Semenanjung Yucatan.
Seperti dilansir VIVAnews, Dalam video tersebut juga tampak kilatan halilintar di samudera Pasifik, sebelum video memperlihatkan keindahan Guatemala, Panama, Kolombia, Ekuador, peru, Cili, dan Amazon. Ionosfer Bumi dan Bintang galaksi dapat terlihat menjadi gambar yang sangat memesona.
Berikut merupakan sejumlah foto dari video time-lapse itu, yang diambil dari laman Daily Mail:
-
Bencana tsunami besar melanda pantai timur Jepang pada 11 Maret 2011 silam. Bencana itu terjadi setelah sebuah gempa dahsyat dengan kekuatan 8,9 Skala Richter.Sistem keamanan darurat Jepang, saat terjadi tsunami, tampak bekerja dengan bagus memberi peringatan kepada rakyatnya. Namun, tampaknya sistem peringatan dini itu masih kalah cepat dengan peringatan yang disampaikan oleh kelompok ikan oar (oarfish).
Tanda-tanda bencana itu, sepertinya telah dirasakan seminggu sebelum kejadian oleh sekelompok oarfish. Kawanan ikan itu ditemukan terdampar di pantai Jepang, seminggu sebelum tsunami menyapu kawasan pantai timur Jepang.
Kejadian itu, dituliskan oleh laman dailyonigiri.com seperti dilansir oleh vivanews.com. Laman itu menuliskan, seminggu sebelum terjadinya gempa besar dan tsunami itu, ditemukan banyak oarfish yang tersapu di daratan pantai Jepang dan sebagian tersangkut di jaring nelayan. Sebelumnya, laman The Telegraph juga pernah memuat artikel tentang oarfish yang muncul ke permukaan sebelum terjadi gempa besar di Cili dan Haiti pada 2010 silam.
Yang menarik, oarfish ini diduga bisa mendeteksi terjadinya gempa besar. Mengapa demikian?
Oarfish biasanya tinggal di laut dengan kedalaman 1 km (lebih dari 3.000 kaki). Jenis ikan ini sangat jarang ditemukan hidup di laut dengan kedalaman kurang dari 200 meter dari permukaan laut. Ikan ini bisa tumbuh dengan panjang lebih kurang 17 meter (56 kaki).
Menurut kebiasaan kuno Jepang, ikan ini berenang ke permukaan dan pantai sebagai pertanda datangnya gempa bumi.
Selain itu, juga terdapat teori ilmiah yang mengatakan binatang lebih sensitif bergerak ke permukaan dari pada manusia.
Beberapa ilmuan percaya ikan yang hidup di laut dalam sangat sensitif terhadap gerakan bumi dan biasanya selalu mendahului terjadinya gempa bumi. Meski demikian, kebanyakan ahli gempa tidak melihat hubungan ilmiah antara fenomena oarfish dengan gempa bumi.
Tapi, apakah mungkin ikan-ikan itu mengetahui apa yang terjadi di bawah permukaan? Pada zaman kuno, ketika belum memiliki peralatan yang canggih, orang-orang Jepang mempercayai beberapa ikan, terutama lele, sebagai pertanda akan terjadinya bencana gempa.*** -
Peneliti dari the John Hopkins Bloomberg School of Public Health menemukan bakteri pembunuh parasit penyebab malaria pada manusia. Para penelili menemukan bakteri itu justru dalam tubuh nyamuk Anopheles, sang penyebar malaria.
Bakteri pembunuh parasit malaria itu adalah jenis enterobacter. Bakteri ini secara alami berada dalam usus nyamuk. Enterobacter ini membunuh parasit dengan memproduksi jenis oksigen reaksi.
"Kami telah menunjukkan bahwa bakteri dalam usus nyamuk dapat mengaktifkan sistem kekebalan dalam tubuh nyamuk dan dengan demikian secara tidak langsung membatasi perkembangan parasit malaria," kata penulis senior peneliti, George Dimopoulos seperti dilansir vivanews.com dari medindia.net.
"Dalam penelitian ini kami menunjukkan bahwa bakteri tertentu secara langsung dapat menghambat perkembangan parasit malaria melalui produksi radikal bebas yang merusak plasmodium dalam usus nyamuk."
"Kami sangat tertarik dengan penemuan ini, sebab ini mungkin bisa menjelaskan mengapa nyamuk jenis yang sama dan keturunannya kadang-kadang berbeda daya tahannya terhadap parasit, dan kami mungkin juga menggunakan ini untuk mengembangkan metode untuk menghentikan penyebaran malaria," kata Dimopoulos.
Untuk penelitian, peneliti mengisolasi bakteri enterobacter dari usus nyamuk Anopheles yang dikumpulkan di dekat the John Hopskin Malaria Researcher Institute di Macha, yang terletak di dekat Zambia. Sekitar 25 persen nyamuk yang dikumpulkan mengandung bakteri yang khusus.
Studi laboratorium menunjukkan bakteri membatasi pertumbuhan Plasmodium lebih dari 99 persen, baik dalam usus nyamuk maupun dalam tabung percobaan yang biasa digunakan untuk menguji parasit malaria pada manusia.***
Tampilkan postingan dengan label Berita Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Sains. Tampilkan semua postingan
Langganan:
Postingan (Atom)




